MANAJEMEN STRATEGI DALAM DESENTRALISASI PENDIDIKAN

MANAJEMEN STRATEGI
DALAM DESENTRALISASI PENDIDIKAN

Pendahuluan
Pengaruh globalisasi tak bisa dihindarkan dari setiap organisasi untuk melakukan perubahan dan pembenahan dalam rangka mencapai tujuannya, baik organisasi usaha, organisasi sosial maupun organisasi pendidikan. Di dunia pendidikan, persaingan tak bisa dihindarkan dengan munculnya lembaga-lembaga pendidikan mulai dari play group, SD, SLTP, SLTA sampai perguruan tinggi yang berlebel internasional. Tentu ini sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita untuk melakukan upaya-upaya penataan organisasi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan sesuai dengan tuntutan perubahan. Perubahan di tingkat perilaku konsumen, dalam hal ini adalah masyarakat (orang tua dan siswa). Konsumen kini menjadi semakin banyak tuntutan, baik mengenai kualitas lulusan, fasilitas pendidikan maupun biaya pendidikan. Oleh kareena itu manajemen pendidikan harus mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat dan dapat bersaing secara efektif dalam konteks lokal, nasional bahkan dalam konteks global.
Dalam upaya untuk meningkatkan daya saing dan tuntutan perubahan akibat derasnya arus globalisasi, maka penerapan manajemen strategi menjadi sebuah keniscayaan, terutama di lembaga pendidikan. Dengan penerapan manajemen strategi, lembaga pendidikan akan mampu bersaing dan dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan serta mampu mengantisipasi dinamika perubahan.
Dalam tulisan ini akan dibahas tentang pengertian manajemen strategi, proses manajemen strategi, dan manajemen strategi dalam deesentralisasi pendidikan. Melalui tulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam memahami pengertian manajemen strategi, proses manajemen strategi, dan penerapannya dalam desentralisasi pendidikan, terutama di tingkat satuan pendidikan (sekolah).
A. Pengertian Manajemen Strategi
Manajemen strategi terdiri dari dua rangkaian kata, yaitu “manajemen” dan “strategi” yang masing-masing memiliki pengertian tersendiri. Setelah dua kata tersebut dirangkaikan menjadi satu maka pengertiannya berubah, walaupun masih ada unsur-unsur dari kedua kata tersebut. Oleh karena itu sebelum memahami pengertian tentang manajemen strategi, terlebih dahulu kita memahami tentang pengertian manajemen dan pengertian strategi.
1. Pengertian Manajemen
Pengertian manajemen menurut beberapa ahli sangat bervariasi, diantaranya :
Menurut Nickles, Mc Hingh dan Mc Hugh (1997), management is the process used be accompalish organizational goals through planning, organizing, directing, and controlling people and other organizational resources. Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengandalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisian. Sedangkan menurut George R. Terry, “manajemen adalah suatu proses kegiatan yang terdiri dari planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan) dan controlling (pengendalian) kinerja dengan menggunakan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.”
2. Pengertian Strategi
Pengertian strategi secara etimologis berasal dari kata “strategos” dalam bahasa Yunani yang berarti perencanaan dan pemusnahan musuh-musuh dengan menggunakan cara-cara yang efektif berdasarkan sarana-sarana yang dimiliki (Bracker : 1980). “Strategos” juga berarti ilmu para jendral untuk memenangkan suatu pertempuran dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (Shihombing : 2000). Dari dua pengertian tersebut di atas dapat diformulasikan menjadi pengertian umum bahwa strategi adalah proses penentuan rencana yang dilakukan pemimpin puncak yang disertai penentuan cara-cara untuk mencapai tujuan dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki.
Penggunaan strategi pada awalnya digunakan dalam dunia militer, namun dalam perkembangannya strategi kemudian digunakan dalam dunia perdagangan atau bisnis. Yang membedakan keduanya hanya pada asumsi dasar yang digunakan untuk menyusun strategi tersebut. Bila dalam dunia militer asumsinya adalah bagaimana menyelesaikan sebuah konflik, maka dalam dunia bisnis asumsi dasar yang digunakan adalah untuk memenangkan persaingan.
3. Pengertian manajemen Strategi
Pengertian manajemen strategi sangat bervariasi, namun pada intinya memiliki dasar pengertian yang sama. Di antara pengertian-pengertian tersebut adalah :
Menurut Wahyudi (1996:15) “Manajemen strategik adalah suatu seni dan ilmu dari pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) tentang keputusan-keputusan strategis antar fungsi-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa mendatang.”
Pendapat selanjutnya diungkapkan oleh Hunger & Wheelen, (1999:4) “Strategik management is that set of managerial and actions that determine the long term performance of corporation. It includes stratey formulation, strategy implementation and evaluation”. Manajemen strategik adalah serangkaian daripada keputusan manajerial dan kegiatan-kegiatan yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut terdiri dari perumusan atau perencanaan strategik, pelaksanaan atau implementasi dan evaluasi.
Jauch & Glueck (1997:12) mengemukakan bahwa strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan keunggulan strategi organisasi dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama organisasi dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi.
Pengertian lain tentang manajemen strategik dikemukakan oleh Nawawi (2003: 149) bahwa “manajemen strategik adalah perencanaan berskala besar (disebut perencanaan strategik) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut visi) dan ditetapkan sebagai keputusan manajemen puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil) agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut misi), dalam usaha menghasilkan sesuatu (perencanaan operasional untuk menghasilkan barang / jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut tujuan strategik) dan berbagai sasaran (tujuan operasional) organisasi.
Pada pengertian yang dikemukakan oleh Nawawi, memperjelas pengertian sebelumnya tentang manajemen strategis sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen yang pertama adalah perencanaan strategik yang terdiri dari visi, misi dan tujuan organisasi, sedangkan komponen yang kedua adalah perencanaan operasional yang berupa tujuan operasional dan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen termasuk fungsi kontrol dan evaluasi serta umpan balik.
Dari beberapa pengertian tentang manajemen strategi di atas, pada dasarnya manajemen strategi mengandung dua hal penting yaitu :
a. Manajemen strategi terdiri dari tiga macam proses manajemen yaitu pembuatan strategi, penerapan strategi dan kontrol / evaluasi terhadap strategi.
b. Manajemen strategi memfokuskan pada penyatuan atau penggabungan (integrasi) aspek-aspek pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan / akuntansi dan produksi / operasional dari sebuah bisnis.

B. Proses Manajemen Strategi
Manajemen strategik pada prinsipnya adalah suatu proses, dimana informasi masa lalu, saat ini dan ramalan masa datang dari operasi dan lingkungan bisnis mengalir melalui tahap-tahap yang saling berkaitan ke arah pencapaian suatu tujuan. (Wahyudi, 1996:31).
1. Perumusan Strategi (Strategy Formulation)
Tujuan utama kegiatan formulasi strategi adalah pembuatan tujuan yang rasional. Rasionalitas ini dalam perkembangannya semakin kompleks karena pesatnya perkembangan lingkungan dimana organisasi tersebut berada. Perkembangan lingkungan ini menuntut organisasi agar selalu melakukan perubahan ke arah perbaikan untuk mempertahankan eksistensinya. Kemampuan internal organisasi dan tuntutan perubahan eksternal merupakan dua komponen utama yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan strategik.
Ada tiga pertanyaan yang harus dijawab dalam penyusunan strategi, yaitu :
a. Dimana kita berada saat ini? Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan sesudah melakukan analisis terhadap lingkungan internal dan eksternal serta mengakomodasi harapan customer dan stakeholder.
b. Kemana kita hendak menuju? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dengan mengembangkan visi, misi, nilai dan sasaran.
c. Bagaimana caranya kita dapat sampai ke tujuan? jawaban terhadap pertanyaan ini adalah dengan menyusun “action plan” yang intinya merupakan tindakan mengimplementasikan rencana strategis dengan mengalokasikan sumber daya secara optimal dalam bentuk rencana kerja.
Adapun langkah-langkah dalam menyusun strategi adalah sebagai berikut :
a. Menentukan visi, misi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai dengan tepat sehingga dapat dijadikan acuan operasional organisasi.
b. Mengenali lingkungan organisasi.
c. melakukan analisis yang bermanfaat untuk menentukan positioning organisasi untuk mempertahankan eksistensinya. (LAN, 2004:79)
d. Penyusunan rencana strategik.
2. Implementasi Strategi (Strategy Implementation)
Tujuan utama implementasi strategi adalah rasionalitas tujuan dan sumber daya. pada dasarnya implementasi strategi adalah tindakan mengimplementasikan strategi yang telah kita susun ke dalam berbagai alokasi sumber daya secara optimal. dalam mengimplementasikan strategi perlu diperhatikan :
a. Sistem pelaksanaan Renstra (dan RKT) membahas cara bagaimana (How) mencapai tujuan dan sasaran (What dan When) dan karenanya merupakan faktor yang sangat penting dalam mewujudkan visi dalam kerangka misi organisasi.
b. Sistem pelaksanaan juga menyangkut langkah-langkah yang perlu disiapkan dalam rangka untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan, yang meliputi :
1). Bentuklah organisasi pelaksana.
2). Tunjuk Pelaksana.
3). Buat SOP.
4). Siapkan sarana.
5). Siapkan anggaran.
3. Evaluasi Strategi (Strategy Evaluation)
Fokus utama dalam strategy evaluation adalah pengukuran kinerja dan penciptaan mekanisme umpan balik yang efektif. Proses evaluasi dan kontrol ada lima tahapan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Wheelen dan Hunger (1995;281-282), masing-masing tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Menetapkan apa yang dikontrol, manajer puncak dan manajer operasional perlu secara kongkrit menetapkan hasil dan proses implementasi yang akan dimonitor dan dievaluasi. Proses dan hasil itu mesti bisa diukur denga cara yang objektif dan konsisten.
b. Menetapkan standar kinerja, standar yang digunakan untuk mengukur kinerja merupakan pernyataan yang rinci dari objektif strategis. dalam standar ini biasanya ada ambang batas toleransi yang memberikan batasan atas penyimpangan yang bisa diterima.
c. Ukuran kinerja aktual, pengukuran hendaknya dilakukan dalam waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya.
d. Membandingkan kinerja aktual dengan standar, apabila hasil aktual berada di dalam ambang batas toleransi, maka proses pengukuran dihentikan sampai di sini.
e. Mengambil langkah korektif, apabila hasil aktual ternyata berada di luar ambang batas toleransi itu, maka langkah-langkah korektif harus dilakukan.
C. Manajemen Strategi dan Desentralisasi Pendidikan
Desentralisasi dalam bidang pendidikan tak bisa dilepaskan dari sistem otonomi daerah, dimana pemerintah pusat memberikan pelimpahan sebagian wewenang, tugas, kewajiban dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan negara kepada pemerintah daerah. Desentralisasi di bidang pendidikan merupakan salah satu paket pelaksanaan otonomi daerah. Istilah desentralisasi mengandung makna proses pendelegasian atau pelimpahan kekuasaan atau wewenang dari pimpinan atau atasan ke tingkat bawahan dalam organisasi (Greenberg dan Baron, 1995:585; Riwukaho, 1996 mengutip dari Maro, 1990).
Desentralisasi pendidikan merupakan upaya untuk mendelegasikan sebagian atau seluruh wewenang di bidang pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh unit atau pejabat pusat kepada unit atau pejabat di bawahnya atau dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, atau dari pemerintah kepada masyarakat. Salah satu wujud dari desentralisasi itu adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. Desentralisasi pendidikan yang antara lain dimanifestasikan dalam pemberian otonomi pada sekolah, akan meningkatkan kapasitas dan memperbaiki manajemen sekolah. Adanya kewenangan penuh yang dimiliki sekolah, maka sekolah lebih leluasa dalam mengelola dan mendayagunakan potensi sumber daya yang dimiliki, antara lain, keuangan, tenaga pengajar (guru), kurikulum, sarana prasarana, dan lain-lain. dengan demikian, desentralisasi pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan memperbaiki kualitas belajar-mengajar, karena proses pengambilan keputusan dapat dilakukan langsung oleh sekolah.
Kebijakan desentralisasi bidang pendidikan dalam pelaksanaan Otonomi daerah berkonsekuensi pada perlunya kebijakan strategis bidang pendidikan, yaitu :
1. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan kepada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan.
2. Pendidikan yang berbasiskan pada partisipasi komunitas (Community Based Education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat.
3. Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan peserta didik menjadi manusia yang diberdayakan.
4. Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Based Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada peserta didik untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera, dengan pembekalan life skill.
Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (manajemen Berbasis Sekolah), yang diyakini akan memberdayakan masyarakat pendidikan (stakeholder) dalam memberi perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidika , khususnya sekolah. dalam menerapkan konsep MBS, mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orang tua siswa yang belajar di sekolah tersebut, namun mengikut sertakan pula guru, siswa, tokoh masyarakat, pakar dan pemerintah di sekitar sekolah dan bahkan pengusaha. Tujuan program MBS diantaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality assurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite Sekolah. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut, melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. salah satu di antaranya, diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
D. Pembahasan
1. Manajemen Strategi
Pengertian manajemen strategi dapat bervariasi sesuai dengan titik tekan dan pengalaman para ahli dalam mendefinisikannya. Namun sebenarnya bila kita analisa dari beberapa pengertian tentang manajemen strategi, maka ada dua aspek yang tidak lepas dari dua kata yang membentuknya, yaitu aspek manajemen dan aspek strategi. Aspek manajemen yaitu perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Sedangkan aspek strategi adalah pemetaan dan analisis terhadap lingkungan eksternal dan internal organisasi serta sumber daya yang dimiliki untuk dimanfaatkan sebagai pedoman dalam menyusun langkah-langkah operasional dan sarana mencapai tujuan.
Adapun proses manajemen strategi secara garis besar terdiri dati tiga tahapan, yaitu strategy planning, strategy implementation dan monitoring & evaluation. Penetapan visi, misi dan tujuan secara proses bisa termasuk dalam strategy planning demikian juga pemetaan atau analisis terhadap faktor internal dan eksternal organisasi. Namun bisa juga pemetaan atau analisis terhadap faktor internal dan eksternal organisasi serta sumber daya yang ada dilakukan diluar atau sebelum perumusan strategi. Oleh karena itu secara skematis alur proses manajemen strategi dapat berbeda pola, namun pada intinya adalah sama.
2. Manajemen Strategi dan Desentralisasi Pendidikan
Desentralisasi pendidikan sebagai bagian dari pelaksanaan sistem otonomi daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat, membawa implikasi terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Desentralisasi pendidikan yang diberikan pemerintah pusat dalam bentuk kebijakan dan regulasi melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar Pendidikan nasional, serta secara teknis dituangkan ke dalam Peraturan Menteri Pendidikan tentang delapan standar pengelolaan pendidikan. Disamping itu, digulirkannya program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, sesungguhnya menjadi penguat agar masing-masing sekolah memperbaiki pengelolaan pendidikan dengan manajemen yang baik.
Otonomi yang demikian besar diberikan kepada sekolah ini seharusnya menjadi dasar untuk menerapkan manajemen strategik. manajemen strategik dalam dunia pendidikan merupakan suatu pengelolaan satuan pendidikan berdasarkan pendekatan terhadap analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan untuk merancang aktivitas dalam rangka mencapai visi, misi dan tujuan sekolah yang telah ditentukan. Adapun langkah sebagai berikut :
a. Analisis potensi dan profil satuan pendidikan (sekolah / madrasah) untuk mengidentifikasi -langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan manajemen strategik adalah kekuatan dan kelemahan.
b. Analisis lingkungan untuk mengidentifaksi peluang dan ancaman dalam melaksanakan kegiatan pendidikan.
c. Menetapkan visi, misi dan tujuan berdasarkan analisis potensi dan lingkungan sebagai acuan dalam pengelolaan satuan pendidikan.
d. Menetapkan strategi yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja sekolah dalam mencapai visi, misi dan tujuan sekolah.
e. Membuat sistem operasional dan standar kualitas sebagai acuan dalam melakukan kontrol dan evaluasi.
E. Penutup
1. Kesimpulan
Dari beberapa pengertian tentang manajemen strategi ada dua aspek yang penting dalam memahami manajemen strategi, yaitu aspek manajemen yaitu perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Sedangkan aspek strategi adalah pemetaan dan analisis terhadap lingkungan eksternal dan internal organisasi serta sumber daya yang dimiliki untuk dimanfaatkan sebagai pedoman dalam menyusun langkah-langkah operasional dan sarana mencapai tujuan.
Proses manajemen strategi secara garis besar terdiri dati tiga tahapan, yaitu strategy planning, strategy implementation dan monitoring & evaluation. Penetapan visi, misi dan tujuan secara proses bisa termasuk dalam strategy planning demikian juga pemetaan atau analisis terhadap faktor internal dan eksternal organisasi. Namun bisa juga pemetaan atau analisis terhadap faktor internal dan eksternal organisasi serta sumber daya yang ada dilakukan diluar atau sebelum perumusan strategi.
Manajemen strategik dalam dunia pendidikan merupakan suatu pengelolaan satuan pendidikan berdasarkan pendekatan terhadap analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan untuk merancang aktivitas dalam rangka mencapai visi, misi dan tujuan sekolah yang telah ditentukan.
2. Saran
Otonomi yang demikian besar diberikan kepada sekolah ini seharusnya menjadi dasar untuk menerapkan manajemen strategik.

F. Daftar Pustaka
1. Akdon, Strategic Management for Educational Management (Manajemen Strategik untuk Manajemen Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2007
2. Heene, Aime & Desmindt, Sebastian, Manajemen Strategik Pengorganisasian Publik, Refika Aditama, Bandung, 2010.
3. Hasibuan, Malayu S. P., Manajemen (Dasar, Pengertian dan Masalah), Bumi Aksara, Jakarta, 2001.
4. Iriantara, Yosal, Manajemen Strategis Publik Relations, Ghalia Indonesia, jakarta, 2004.
5. Pidarta, Made, Landasan Kependidikan, Rineka Cipta, jakarta, 2007.
6. Sagala, Syaiful, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2007.
7. Wahyudi, Agustinus Sri, Manajemen Strategik (Pengantar Proses Berpikir Strategik), Binarupa Aklsara, 1996.
8. Wijaya Tunggal, Amin, Manajemen Strategik Untuk Memenangkan Kompetisi, Harvarindo, 2009.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: